in

Cara Suku Baduy Mempertahankan Nol Kasus Corona

Bagikan Artikel Ini

Pandemi Covid 19 belum berakhir, masih banyak wilayah yang terdampak dan sampai saat ini korbannya terus berjatuhan. Hanya saja, ada satu tempat dimana sejak awal sampai sekarang mereka dikabarkan zero corona artinya tidak terdampak sama sekali.

Tempat itu dihuni oleh Suku Baduy yang terletak di Desa Kanekes, Pegunungan Kendeng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Banten. Hal inilah yang menjadi inspirasi bagi Bapak Presiden memutuskan menggunakan Pakaian Adat dari Suku Baduy saat Sidang Tahunan DPR/MPR digelar.

Pertanyaannya, bagaimana bisa? Bila dilihat dari kawasannya sendiri, daerah tersebut termasuk dalam jajaran zona merah. Artinya, sangat rawan terdampak. Lalu, apa yang mereka lalukan sehingga kondisi tersebut bisa terjadi?

Mematuhi protokol kesehatan

Bila selama ini Anda sering mengeluhkan dan mungkin mempertanyakan, mengapa sudah vaksin masih saja kena? Jawabannya, karena tidak patuh prokes. Hanya saja, beberapa marah karena, mereka sudah merasa patuh pada aturan apakah benar?

Coba lihat suku Baduy, mereka benar-benar mematuhi anjuran dari pemerintah. Baik luar atau dalam, tetap saja kasusnya nol. Maklum saja, penduduk masih memperhatikan dan mendengarkan apa perintah dari tetua adat.

Mereka dilarang berpergian kalau tidak penting. Menariknya perintah itu dipatuhi dengan baik, penduduk sekitar sudah terbiasa menyatu dengan alam, untuk urusan makan mereka tidak perlu ketakutan. Karena, alam sekitar sudah menyediakannya.

Tinggal mengolah saja menjadi apa yang diinginkan. Tidak cukup sampai disitu, ketua adat dikenal sangat tegas dan tidak segan dalam memberikan hukuman bagi siapa yang melanggarnya.

Tidak heran bila protokol 3 M selalu bisa diterapkan disini. Karena, penduduknya sendiri selalu menurut apa yang disampaikan oleh tetua. Termasuk larangan untuk tidak berkerumun serta salaman juga dilakukan.

Kegiatan hanya berladang

Biasanya, masyarakat Baduy melakukan kontak fisik dengan masyarakat lain, dengan menjual hasil bumi yang didapatkan di kota.  Tetapi, selama pandemi apalagi PPKM, mereka seperti dikurung di dalam dan tidak boleh keluar.

Penutupan tersebut ternyata sangat efektif, dimana virus sulit untuk menjangkau wilayah ini. Bahkan, para tetua juga menambah peraturan semua sampah harus dibuang pada tempatnya, termasuk pada kawasan pemukiman baduy luar.

Hal ini membuat kebersihan dari tempat tersebut lebih terjaga.. Kondisi ini juga diakui oleh petugas puskesmas setempat. Dimana mereka menilai masyarakat sudah mematuhi seluruh anjuran pemerintah. Hasilnya sudah terbukti  benar, kasusnya tetap di angka 0.

Minum ramuan tradisional

Bagi masyarakat Baduy mengambil berbagai obat dari alam memang sudah biasa, tidak heran bila mereka mempunyai ramuan tradisi yang mampu menjamin kesehatan tubuh. Minuman rempah yang menjadi andalan terbukti cukup efektif.

Selain itu setiap beberapa pekan, masyarakat juga diminta untuk pergi ke puskesmas memeriksakan kondisinya. Walau secara fisik tampak sehat, tetapi aturan tetap harus dijalankan tidak boleh dilanggar.

Mereka percaya, semua kata tetua adat adalah perintah dari yang Maha Kuasa, jika tidak menurut maka, kesusahan akan menimpanya. Inilah yang menyebabkan sampai sekarang mereka masih bertahan tanpa kasus.

Untuk program vaksinasi sendiri, pemerintah sudah mengupayakan terutama kepada tetua adat. Dengan begini diharapkan anti body seluruh masyarakatnya tetap terjaga. Jadi, penekanan terhadap virus Corona bisa lebih efektif.

Harapannya, Wisata suku baduy bisa kembali berjalan normal, sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat secara luas. Terutama pada Baduy dalam juga bisa beraktivitas seperti semula walau masih dalam pembatasan.

Nol kasus dari suku Baduy ini bisa dijadikan contoh, bahwa protokol kesehatan yang ketat ternyata mampu menekan laju dari virus tersebut. Bahkan, mereka tidak terdampak sama sekali. Perlu diingat, pandemi belum berakhir, jadi harap tetap patuhi protokol 3 M.