in

Cerita Rakyat Mengenai Alat Musik Kolintang

Bagikan Artikel Ini

Indonesia terkenal dengan keberagaman budaya dan adat istiadat. Hal tersebut juga mencakup alat musik di setiap daerah yang masih terus dilestarikan sampai saat ini. Salah satunya adalah Kolintang.

Alat musik asli dari Suku Minahasa ini menghasilkan bunyi yang nyaring karena, terdiri dari barisan gong yang kecil tetapi, letaknya dibuat mendatar. Menurut sejarahnya, Kolintang sendiri sudah dimainkan sejak berabad-abad lalu oleh masyarakat Melayu.

Lebih tepatnya penduduk Indonesia bagian Sumatera, Malaysia dan Brunei Darusalam Bagian Timur serta Filipina.  Ada sebuah Cerita Rakyat yang diyakini oleh warga Minahasa mengenai Kolintang ini. Berikut sepenggal kisahnya.

Cerita Rakyat Penemuan Alat Musik Kolintang

Cerita tersebut berasal dari kabar di Desa Minahasa dulu ada seorang gadis cantik jelita dan pandai bernyanyi, namanya adalah Lintang. Pada suatu hari, gadis tersebut dilamar oleh Makasiga.

Lintang menerima lelaki tersebut dengan sebuah syarat. Dimana, Makasiga wajib menemukan sebuah alat musik yang suaranya lebih merdu dari seruling emas. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Pria yang melamar Lintang menemukannya juga dan dipercaya sebagai cikal bakal dari Kolintang.

Alat tersebut cara membunyikannya dengan dipukul dan terbuat dari sebuah kayu. Dimana nadanya dibagi menjadi beberapa ada rendah yaitu tong, nada paling tengah adalah tang, serta ting untuk nada tinggi.

Dari sini, warga Minahasa zaman dulu menyebutnya sebagai Tong Tong Tang hingga, mengalami  kesempurnaan kata menjadi Kolintang. Untuk membuatnya dibutuhkan kurang lebih 3 potongan kayu yaitu bandaran, kakinik, telur.

Ketiganya disusun berdasarkan panjangnya yang diletakkan di atas rak kayu. Dimainkan dengan cara dipukul Biasanya dimainkan secara bersama-sama. Hasil dari bunyi alat musik ini juga berbeda.

Saat dimainkan bersama Kolintang mampu menghasilkan suara yang merdu dan menarik untuk didengarkan. Tidak hanya soal alat musiknya, Kolintang juga merupakan simbol dari kebudayaan dan memiliki berbagai nilai filosofis.

Alat Musik Kolintang Zaman Dulu

Suku Minahasa dikenal dengan adat istiadat dan banyaknya upacara ritual. Tidak heran selama pelaksanaannya Kolintang digunakan sebagai salah satu iringan musiknya. Sayangnya, saat agama Kristen mulai masuk.

Alat musik ini mulai menghilang karena, beberapa upacara adat mulai ditiadakan. Tetapi, 100 tahun kemudian tepatnya masa perang dunia ke 2. Nelwan Katuuk menghidupkan kembali Kolintang dan sedikit mengubah nadanya.

Nada yang disusun sudah jauh dari yang dulu pernah dibuat. Tetapi, lebih ke irama secara global atau universal. Sehingga, siapa yang memaikannya bisa mengerti dan harapannya seluruh dunia tahu keberadaannya.

Nada yang dibuat masih diatonis dengan 2 oktaf. Tetapi, setelah masuk tahun 1954 akhirnya dibuat 3 oktaf ½ bahkan, sampai 4 ½ oktaf. yaitu dari F hingga C. Dengan perubahan ini hampir seluruhnya mendapatkan perbaikan dan hasilnya menjadi lebih menarik dibandingkan sebelumnya.

Rahasia Alat Musik Kolintang

Suara Kolintang terdengar sangat merdu hal ini dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, pemain yang memainkannya kedua, teknik pembuatannya. terutama soal pemilihan kayu sehingga, menghasilkan suara yang sangat bagus.

Salah satu cara dalam memilih kayu yang tepat adalah saat dipukul mampu menghasilkan suara yang cukup panjang sehingga, alat musik tersebut mampu menciptakan nada tinggi dan rendah. Sayangnya, tidak semua jenis kayu bisa menghasilkan nada seperti itu.

Keberadaan alat musik Kolintang sampai saat ini masih terus dilestarikan. Dimana, bunyi yang dihasilkan masih merdu dan menarik. Saat ini kegunaannya bukan hanya untuk upacara adat saja melainkan beberapa kesenian lainnya. Walau terlihat mudah, memainkan alat ini ternyata cukup sulit. Apakah Anda bisa memainkannya?