in

Cerita Rakyat Mengenai Perkembangan Bioskop di Indonesia

Bagikan Artikel Ini

Sudah sejak lama Gedung Bioskop menjadi salah satu sarana hiburan terbaik bagi masyarakat. Dengan berbagai tayangan film menarik dari Indonesia hingga luar negeri. Walaupun, layanan streaming sudah mulai merajai. Tetapi, keinginan untuk melihat di Bioskop tetap tinggi.

Harus diakui, ada perbedaan suasana yang membuat para penonton tidak mau berpindah. Apalagi, kalau sudah berbicara tengan film box office baik horror atau action. Pasti tempat pertama yang akan dituju adalah Bioskop.

Secara global, gedung pertunjukan film tersebut pertama kali dibangun pada 1895. Tepatnya ada di Paris, Prancis. Lalu, berkembang secara pesat di Amerika serikat. Lalu, kapan Bioskop mulai merambah Indonesia?

Ternyata, 5 tahun setelah Amerika Serikat. Lebih tepatnya pada  Desember 1900. Waktu itu, tempatnya ada di Jalan Tanah Abang 1, Kebon Jeruk, Jakarta. Hanya saja awal kemunculannya hanya sebuah rumah jadi belum berbentuk bangunan megah seperti, sekarang ini.

Cerita Rakyat Mengenai Bioskop di Indonesia

Gedung pertunjukan film pertama kali di Indonesia dibangun oleh pengusaha yang berasal dari Belanda namanya adalah Talbot. Untuk sistem pembayarannya bukanlah uang melainkan, uang perak disebut dengan Gulden.

Untuk kelas 1 harganya 2 Gulden sementara, kelas 2 dipatok ½ perak. Perlu diketahui, waktu dulu harga 1 perak ini sama saja 10 kilogram beras atau setara Rp100 ribu bila diuangkan ke dalam Rupiah.

Pemutaran Film pertama itu masih hitam putih dan belum bersuara tetapi, sudah ada iringan musik sepanjang pertunjukkan. Melihat peluangnya cukup besar dan banyak warga yang suka. Beberapa pengusaha akhirnya, mulai mendirikannya.

Hanya saja, masih dimiliki oleh perorangan belum sebuah grup atau kelompok. Satu tahun kemudian, Gedung Bioskop hadir di Gambir hanya saja bangunannya masih seperti bangsal dan atapnya adalah seng. Setelah itu, sampai tahun 1903 terus bermunculan Bioskop dengan segala konsepnya.

Jaringan Gedung Bioskop di Indonesia

Perkembangan Pertunjukan Film ini berkembang sangat pesat akhirnya, muncullah beberapa bangunan dan tempat menonton. Seiring perkembangan teknologi yang kian canggih. Film juga berkembang lebih jauh.

Dimana, sudah ada suara, serta warnanya tidak lagi hitam putih. Bukan hanya Luar negeri saja, Indonesia juga menampilkan beberapa karya yang tidak kalah menarik. Berbagai genre ada mulai dari aksi sampai drama.

Apakah seluruh Gedung tersebut sampai sekarang masih berfungsi. Beberapa masih berdiri kokoh salah satunya adalah Metropole yang terletak di kawasan Megaria yaitu Metropole tercatat sebagai Biskop tertua yang masih bertahan.

Dimana dibangun pada tahun 1951. Mempunyai kapasitas terbesar kurang lebih 1700 penonton. fasilitasnya sangat lengkap, tersedia ruang dansa serta kolam renang di bagian atas. terdapat pula teknologi  ventilasi peniup hingga penyedot .

Sempat diganti nama jadi Megaria tetapi, kembali berubah ke Metropole. Pada 1987 akhirnya, ada perkembangan dimana sudah menganut sistem sineplex atau lebih dari satu layar. Terinspirasi dari Twin Theathre yang dulu dekat Monas.

Sayang saat ini harus tutup, konsep seperti ini dulu hanya ada di Mall atau restoran saja. Karena, pengunjung mereka sangat banyak dan keinginan untuk menonton tinggi. Seiring berjalannya waktu, jaringan bioskop saat ini berkembang pesat.

Paling banyak masih dipegang XXI dengan penambahan fasilitas IMAX yang menawarkan tampilan gambar sangat nyata dan Serta The Premiere yang menawarkan fasilitas kenyamanannya.

Ada lagi Cineplex dan CGV yang memberikan suasana baru dalam melihat pertunjukan film. Bioskop berbeda seperti warnet yang akan hilang dan lenyap karena, perkembangan zaman. Sensasi dan teknologi yang dirasakan tetap sulit membuat penonton berpaling dan pergi.