in

Kesenian Tanjidor, Dari Eropa Hingga Berlabuh ke Indonesia

Bagikan Artikel Ini

Kesenian Tanjidor, menjadi pertunjukan tradisional khas Betawi yang biasa digelar dalam berbagai hajatan. Mulai dari pernikahan, syukuran, dan lain sebagainya. Dimana, untuk memainkannya membutuhkan banyak pemain.

Alat musik tersebut tersedia dalam berbagai ukuran, ada yang besar dan kecil. Cara memainkannya juga beragam, mulai dari ditiup sampai ditabuh, hampir mirip sebuah orkestra yang mampu menghasilkan berbagai harmonisasi nada.

Harus diakui, suaranya sangat khas, tanpa melihat saja Anda pasti sudah bisa mengenalinya. Mungkin, ada sejumlah pertanyaan bagaimana sebenarnya sejarah dari pertunjukan Tanjidor tersebut bisa masuk ke Indonesia seperti, beberapa kesenian tradisional lainnya.

Perlu diketahui pada tahun 1942, kebudayaan tersebut dilarang karena, tidak sesuai dengan kesenian Jepang. Berhentinya, Tanjidor membuat kebudayaan China mulai terangkat. baru setelah tahun 1970 orkes ini berdiri kembali sampai saat ini

Cerita Rakyat Mengenai Kesenian Tanjidor

Pertama kali kesenian tradisional ini masuk Indonesia pada abad ke 19. Namanya sendiri diambil dari bahasa Portugis yaitu, Tangedor artinya adalah alat musik yang memiliki dawai. Walaupun terinspirasi dari sana, namun keduanya mempunyai perbedaan cukup jauh.

Dalam beberapa penelitian, kemunculannya pertama kali berada di kawasan Citeureup. Dimana, Mayor Jantjie yang terkenal sangat kaya tersebut membawa pertunjukan ini. Hanya saja, tidak ada yang bisa memainkannya.

Akhirnya, Beliau mengundang guru les dan menyuruh budaknya untuk memainkannya. Setelah mereka mahir, akhirnya dibentuklah sebuah grup musik bernama Het Muziek Corps der Papangers.

Mereka bermain untuk jamuan acara penting termasuk, sebuah pesta yang sering diadakan oleh Mayor Jantje. Seiring perkembangan zaman, budak mulai dihapus pada tahun 1860. Para budak ini akhirnya membentuk sebuah grup musik bernama Tanjidor.

Awal mula pertunjukan tersebut hanya dimainkan di kawasan pinggiran seperti, Depok, Cileungsi, Parung, Bogor, Bekasi, hingga Tangerang. Awalnya mereka hanya mengiringi lagu yang sudah jadi, hanya saja semakin banyak orang menggunakan jasanya untuk berbagai keperluan.

Lagu-lagu baru mulai dihadirkan hanya saja, secara keseluruhan masih mengandung unsur Belanda dengan logat khas Betawi. Seiring berjalannya waktu, akhirnya mereka mampu membuat ciri khasnya sendiri dengan menciptakan Jali-Jali, Kicir-Kicir, serta beberapa lagu Sunda lainnya.

Salah satu keunikan dari pertunjukan Tanjidor adalah tidak adanya partitur nada baku seperti alat musik modern lainnya. Mereka masih mempertahankan tangga nada diatonic dan intuisi agar hasilnya enak didengar dan membuat semua orang larut dalam pertunjukkan tersebut.

Alat Musik yang Digunakan

Dalam pertunjukkan Tanjidor ini, mereka menggunakan beberapa alat musik yang menjadi pembeda dari Tangedor. ini dia alat musik yang digunakan dimana, hampir semuanya tidak menggunakan dawai.

  • Klarinet, hampir menyerupai seruling cara memainkannya ditiup dengan suara kecil melengking
  • Piston, bentuknya seperti terompet, untuk menemukan nadanya cukup ditekan pada tuas menggunakan jari. Agar suaranya keluar cukup ditiup saja.
  • Trombon, berupa terompet dengan tabung resonansi cukup panjang. cara memainkannya ditiup, sementara untuk mendapatkan nadanya bisa digerakkan memanjang atau memendek.
  • Saksofon tenor, beberapa orang menyebutnya sebagai tuba Jongkok, karena cara memainkannya cukup unik yaitu diletakkan di atas paha. Sehingga, terlihat seperti orang Jongkok
  • Saksosfon bas, untuk menghasilkan suara cukup di tiup saja disebut juga dengan bas selendang, karena menggunakannya harus digendong memakai selendang.
  • Drum, menghasilkan suara dengan dipukul, menggunakan tangan atau stik, beberapa orkestra melengkapinya bersama triangle sehingga, menghasilkan nada yang lebih kaya
  • Simbal, bentuknya berupa tambur kecil memainkannya cukup dipukul pada membrannya menggunakan stick berupa kayu
  • Tambur, mempunyai dua sisi dimana bagian kanan terbuat dari kain lunal, Anda perlu memukulnya agar menghasilkan suara, dengan sebuah tongkat kayu. Sementara, pada bagian kiri memegang simbal menghasilkan bunyi dengan dipukulkan dan letaknya di atas tambur.

Jumlah pemain dalam satu kali pertunjukan minimal 7 orang. Tetapi, ada juga yang 10 sampai 15 orang. Sampai saat ini Tanjidor masih dilestarikan Walaupun jumlahnya memang sangat sedikit.