in

Mengenal Kesenian Rakyat Ludruk yang Mengocok Perut

Bagikan Artikel Ini

Ludruk merupakan salah satu kesenian tradisional dari Jawa Timur yang menarik untuk disimak. Cerita yang disajikan berdasarkan kehidupan sehari-hari. Banyak ilmu dan petuah sengaja diberikan agar menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

Pengemasannya membuat semua orang selalu tertawa. Wajar saja, banyak orang menyukainya. Walaupun, saat ini jumlahnya sudah tidak sebanyak dulu. Namun, penontonnya masih setia menantikan lawakan dari para pemainnya.

Bisa jadi alternatif sebagai sarana hiburan penghilang stress. Tetapi, apakah Anda tahu darimana sebenarnya kesenian Luduruk ini? Bila ditelusuri lebih dalam melalui beberapa naskah kuno.

Sebenarnya, pengertian dari Ludruk ini adalah badhut yang sedang berperan di atas panggung. Bahasa yang digunakan Jawa khas Surabaya. Cara penyampaiannya cukup ringan dan semua golongan usia dapat terjangkau. Walaupun, harus disesuaikan dengan judul yang disampaikan.

Karena, ada beberapa yang menggunakan istilah kasar atau tidak senonoh dan belum saatnya anak mendengarkan . Beberapa cerita rakyat bersimpangan mengenai asal mula kesenian tersebut. Beberapa berpendapat Jombang, tetapi lainnya Surabaya.

Cerita Rakyat Tentang Ludruk

Menurut cerita rakyat yang berkembang, dulu kesenian Ludruk ini tumbuh dan berkembang di beberapa kota seperti, Mojokerto, Malang, Surabaya, Blitar, Jombang, Probolinggo, Sidoarjo, Bondowoso dan beberapa  kawasan lainnya di Jawa Timur.

Pertama kali muncul pada tahun 1890. Pencetusnya bernama Gangsar seorang seniman yang berasal dari Desa Pandaan Pada masa kemunculannya, bentuknya belum sebuah drama seperti sekarang ini.

Melainkan, ngamen serta jogetan. Untuk pemakainnya semua adalah laki-laki. Hanya saja ada beberapa yang memang berdandan sebagai perempuan. Mengapa bisa demikian? Hal tersebut digunakan sebagai salah satu cara menarik perhatian.

Inspirasinya datang ketika Gangsar sedang asyik jalan dan mengembara. Mereka banyak melihat seorang Ayah atau  lelaki yang menggendong anaknya. Sayangnya hal itu sulit membuat mereka diam. Akhirnyanya, mereka mengenakan pakaian perempuan.

Gangsar terkejut dengan yang dilihatnya tersebut. Kemudian, memberanikan diri untuk bertanya. Mengapa mereka demikian? Akhirnya, menjawab bahwa yang dilakukan untuk mengelabui sang Anak agar diam.

Dengan berpakaian seperti itu, anak-anak diam dan merasa bahwa yang sedang menggendong adalah ibunya. Hal inilah jadi awal ide kreatif mengapa Gangsar mengenakan kostum tersebut.

Perkembangan Ludruk

Awal kemunculannya memang dibuat cukup sederhana. Tetapi, seiring perkembangan zaman dan penonton yang cukup banyak. Akhirnya, ada pengembangan agar tidak membosankan yaitu dengan hadirnya parikan atau dialog.

Nama Ludruk sendiri diambil dari gerakan tarian yang selalu digunakan. Gerakannya seperti gedrug-gedrug akhirnya, disebut juga dengan nama ludruk. Di mana kesenian ini dijadikan sebagai sebuah instrumen untuk menyindir pemerintahan kolonial Belanda.

Hingga, muncullah kesenian Ludruk besutan. Dimana dari segi cerita, nama tokoh disamarkan. Secara keseluruhan isinya merupakan kritik sosial yang sebenarnya cukup keras. Tetapi, karena pengemasannya, kritik itu hanya tersambut oleh masyarakat pribumi saja.

Sebelum tahun 1922 kesenian ini memang belum mengambil cerita. Hanya setelah tahun itu karya sastra masuk hingga mengubah ke penampilan Ludruk dengan dihadirkan sebuah cerita yang di ambil dari beberapa karya sastra ternama.

Akhirnya terciptalah Ludruk Sandiwara. Dimana seluruh pemainnya secara lantang menyuarakan apa yang jadi kritikannya. Termasuk sebuah parikan dari Cak Durasim yang menyindir keras Negara Jepang.

Karena kritikan itu, Cak Durasim ditangkap lalu meninggal dalam tahanan Jepang. Setelah masa kemerdekaan, perkembangan kesenian ini semakin bagus. Jumlah senimannya bertambah, panggung untuk menampilkan aksi juga bertambah.

Tidak hanya Jawa Timur saja melainkan, hampir seluruh wilayah Jawa. Menggunakan dekorasi dan ceritanya lebih berkembang dengan sentuhan komedi cukup khas. Hal tersebut bisa dilihat sampai sekarang dan jadi pertunjukan sandiwara terhebat yang pernah dimiliki Indonesia.