in

Mengenal Tari Saman yang Sudah Mendapatkan Pengakuan Dari Unesco

Bagikan Artikel Ini

Indonesia memiliki berbagai budaya dan tradisi yang begitu kaya. Hampir setiap daerah mempunyai satu atau bahkan lebih dari dua. Inilah alasan mengapa banyak wisatawan mancanegara berkunjung ke sini.

Salah satu kebudayaan yang sudah mendunia dan terus dilestarikan adalah Tari Saman, berasal dari Gayo, Provinsi Aceh. Biasanya dibawakan untuk mengiringi berbagai acara misalnya, upacara adat atau penyambutan tamu negara.

Pada masa Kesultanan Aceh. Di mana pertunjukkan tersebut selalu dipentaskan untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi. Serta sebagai salah satu media dakwah dalam memperkenalkan ajaran Islam.

Sejarah Tari Saman

Banyak yang belum tahu bahwa, Aceh mempunyai kerajaan Hindu pertama yaitu Lamuri. Kekuatannya cukup bagus dan menjadi pusat perdagangan waktu itu. Tidak heran bila pengaruhnya ke masyarakat sangat tinggi.

Hingga dua tahun berselang, baru muncul Kerajaan Islam pertama bernama Pasee. Disinilah, mulai lahir para ulama yang terus menyiarkan ajaran islam. Termasuk Syekh Saman, seorang penemu sekaligus pengembang dari Tari Saman.

Karena, pengaruh agama Hindu masih kuat, Syekh tersebut akhirnya menggunakan media sebagai salah satu syiar dakwahnya. Dengan menghadirkan sebuah permainan rakyat, awal mula bernama Pok Ane.

Permainan tersebut ternyata mampu membawa pengaruh positif, masyarakat menyukai dan selalu berkunjung untuk bermain. Melihat respons tersebut, akhirnya permainan itu ditambah dengan berbagai syair pujian kepada Allah SWT, iringan musik, dan sedikit penambahan gerak.

Pertunjukkan tersebut pada akhirnya menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Aceh. Hingga akhirnya, Syekh Saman menyempurnakan gerakannya. Jadi, apa yang Anda lihat sekarang merupakan penyempurnaan dari permainan rakyat waktu itu.

Sejak saat itu, untuk menghormati pencipta sekaligus pengembangnya. Tari ini akhirnya diberi nama Saman. Dengan harapan, perjuangan Syekh untuk mengajarkan ajaran islam ke semua orang masih tetap terjaga.

Keunikan Tari Saman

Keunikan Tari Saman bisa dilihat dari gerakannya. Mereka tampak kompak satu sama lain menghadirkan sebuah harmonisasi, inilah yang membuat pertunjukkan tersebut diakui oleh dunia sebagai warisan budaya.

Melalui UNESCO pada tanggal 24 November 2011 akhirnya, menetapkan pertunjukkan tersebut sebagai daftar representatif budaya tak benda warisan manusia. Penghargaan ini memang tidak salah diberikan.

Karena, filosofi, perjuangan, serta cerita yang menyatu bersama gerakan, membuat dunia mengakui pementasan Tari Saman memang terbaik. Coba saja lihat bagaimana para penari bergerak menepuk dada, paha, tanah, tangan secara bergantian.

Bila dilihat dari filosofinya merupakan wujud dari keseharian masyarakat gayo yang saling gotong royong, rukun dan berjalan bersama tanpa ada perpecahan. Bukan hanya sesama manusia melainkan, sesama makhluk ciptaan Allah.

Keunikan lain yang disajikan dari pertunjukkan ini adalah kehadiran musik yang bukan dari sebuah alat melainkan tangan manusia itu sendiri serta beberapa kata yang terdengar begitu merdu di telinga.

Atribut Tari Saman

Alasan lain yang membuatnya sangat menarik untuk dilihat adalah penggunaan atribut atau kostum. Bukan sesuatu hal yang mewah, cukup sederhana tetapi, saat dilihat lebih dekat begitu luar biasa.

Busana tersebut menggunakan baju dasar, celana atau sarung dengan berbagai motif serta warna yang sudah ditetapkan. Penggunaan ikat kepala untuk pria sebagai simbol dari perjuangan seorang lelaki serta hijab bagi perempuan yang mewujudkan wanita muslimah

Dalam pementasannya, ada sekitar 12 orang atau minimal 6 orang untuk menari. Sebenarnya, semakin banyak pertunjukkan ini terlihat menarik dan mempesona. Apalagi, kekompakkan gerakan yang seirama membuat siapa mata yang memandang pasti akan berdecak kagum.

Tari Saman merupakan wujud dari perjuangan, media dakwah, dan kebudayaan masyarakat Aceh. Seluruh gerakannya mempunyai makna mendalam dimana, setiap manusia harus menyerahkan diri kepada Allah, beribadah dan berdoa. Melihatnya memang sebuah kewajiban dan harus disempatkan walau hanya sekali, bagaimana sudah siap melihat pertunjukannya?