in

Makam Imogiri Peristirahatan Terakhir Keturunan Raja Mataram

Bagikan Artikel Ini

Makam Imogiri menjadi tempat peristirahatan bagi beberapa Raja Mataram. Menurut Cerita Rakyat, pembangunannya dimulai pada tahun 1607 sampai 1645 oleh Sultan Agung yang waktu itu sedang menduduki tahta tertinggi kerajaan.

Nama Imogiri sendiri terdiri dari dua kata. Himat mempunyai arti kabut, dan giri adalah gunung. Jadi, bila disatukan maka area ini mempunyai arti sebagai Gunung yang diselimuti kabut. Penamaan tersebut tidak lepas dari letaknya sendiri yang berada di atas bukit dan hampir setiap pagi selalu diselimuti kabut.

Kondisi tersebut memang tidak mengherankan karena, lokasi pastinya berada di ketinggian 100 meter. Pada awal pembangunannya, kawasan tersebut diberi nama Pajimatan Imogiri. Pada kisah babad momana, pendirian kompleksi ini sudah dimulai pada tahun 1554 Saka. Sebagai sebuah peristirahatan terakhir bagi Raja Mataram dan seluruh keluarganya,

Mengenal Sejarah Pembangunan Makam Imogiri

Kiai Tumenggung Citro Kusumo mendapatkan amanat untuk memimpin pembangunan tersebut. Dimana, menurut kawasan administrasinya terletak di Desa Girirejo dan Wukirsari. Secara keseluruhan, pembangunannya menggunakan Corak Islam Jawa atau Islam Hindu.

Anda bisa melihat ciri khas utamanya berupa Batu Bata Merah yang dapat dilihat pada bagian atasnya. Raja Mataram pertama yang dimakamkan disini adalah Sultan Agung Hanyrakakusuma.

Sayangnya, Pada tahun 1755 Mataram Islam terpecah menjadi dua kerajaaan. Yogyakarta dan Surakarta, tetapi kedua Raja tersebut masih dimakamkan di Imogiri. Karena, masih satu garis keturunan.

Pemilihan tempat ini bukan tanpa alasan. Walaupun berasaskan ajaran Islam, Namun secara konsep dan kebudayaan masih menganut Jawa Hindu. Dimana kawasan tinggi tersebut merupakan tempat sakral. Disini, banyak roh nenek moyang bersemayam.

Tidak hanya itu saja, masyarakat sekitar percaya, semakin tinggi area pemakamannya, maka derajat kemuliaannya juga mengikuti. Kepercayaan inilah yang digunakan dan jadi alasan pemilihan bukit sebagai area makam.

Keunikan Makam Imogiri

Ada keunikan dari area ini, dimana pada masa pembangunannya tidak menggunakan semen. Melainkan, memakai metode kosod yaitu, permukaan batu bata tersebut diberi air terlebih dulu lalu keduanya digosokkan.

Hal ini dipercaya akan mengeluarkan cairan pekat yang berfungsi untuk merekatkan keduanya. Adanya campuran khusus yang tidak dimiliki zaman sekarang membuat sistem kosod sudah ditinggalkan.

Menuju ke area pemakamannya dibuat ratusan anak tangga. Dan bila dilihat cukup pendek. Hal ini untuk memudahkan para peziarah karena, sebagian besar mereka menggunakan pakaian adat. Jadi, untuk naik tangga yang agak tinggi kesusahan.

Area Pemakaman Makam Imogiri

Saat Anda datang berkunjung, jangan heran bila beberapa gapura yang bisa dilihat. Bukan sembarang di bangun, gapura ini sebagai petunjuk dan pertanda batas wilayah. Karena, keturunan Raja Mataram sangat banyak, maka harus ada pembagian dan petunjuk agar jelas.

Memiliki dua gapura yaitu paduraksa dan supit urang. Paling khas adalah paduraksa. Memiliki dua pintu yang bisa buka dan tutup. Selain itu pada dua sisinya terdapat ornamen sayap yang melambangkan lepasnya burung dari sarang.

Hal ini sejalan dengan filosofi orang jawa, saat arwah terlepas dari raganya. Menuju ke seluruh area ini Anda tidak boleh sembarangan. karena, menurut warga sekitar kawasan tersebut disakralkan. lebih baik menjadi norma kesopanan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Terdiri dari Empat area utama yaitu Kasultanagungan, Pakubuwanan, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Pada bagian Kasultanan Yogyakarta dibagi lagi menjadi tiga kedaton, atau ruangan inti makam Raja Jogja.

Mulai dari Sultan Hamengkubuwono 1 sampai 9 dimakamkan di sana. kecuali nomor 2, beliau berada di kawasan pemakaman raja-raja mataram yang letak di Kota Gede. Pemakaman Imogiri menjadi sebuah sejarah panjang bagi seluruh keturunan Kerajaan Mataram. Walaupun sudah terpecah tetapi, tetap saja istirahat terakhir mereka di tempat ini.