in

Mengenal Lebih Dalam Suku Asmat yang Mendalami Papua

Bagikan Artikel Ini

Indonesia terkenal dengan berbagai suku yang tersebar di berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke. Salah satu yang menarik perhatian adalah Suku Asmat dari Papua yang tinggal di dua kawasan yaitu, daerah pedalaman dan pesisir pantai.

Tidak hanya berbeda tempat tinggalnya saja melainkan secara keseluruhan. Mulai dari cara dialog, ritual serta struktur sosial. Hal tersebut dapat terlihat saat Anda berkunjung ke Pesisir. Terbagi menjadi dua bagian yaitu Bisman dan Simai.

Tidak berhenti sampai disitu saja, Suku Asmat juga terkenal memiliki hasil ukiran yang sangat bagus. Masih tampak tradisional dan khas sekali karena, mereka menggunakan tema dari nenek moyang. Hampir menyerupai perahu dan merupakan simbol dari arwah nenek moyang.

Perlu diketahui bahwa, seni ini menjadi sebuah ritual wajib yang harus dilakukan oleh penduduk. Hal tersebut menjadi cara bagi mereka untuk mengenang arwah para leluhurnya yang sudah meninggal.

Mengenal Lebih Jauh Tentang Suku Asmat

Hampir semua penduduknya meyakini bahwa mereka adalah keturunan dari Dewa Fumeripitsy. Dimana, saat turun ke Bumi melakukan pendaratan di sebuah tempat yang sangat jauh dari Gunung.

Menurut mitologi yang mereka percaya Dewa Fumeripitsy ini sedang berjalan menuju ke hulu sungai. Kemudian, diserang oleh buaya keduanya terlibat dalam pertarungan hebat. Buaya kalah, hanya saja Sang Dewa terluka berat.

Hingga akhirnya, terbawa arus dan terdampar di Desa Syuru.  Beruntungnya, ada Burung Flaminggo yang merawatnya hingga sembuh. Lalu, membangun Rumah Yew serta dua patung yang menawan.

Setelah selesai Dewa Fumeripitsy menari dan memberikan kehidupan untuk kedua parung tersebut. Mereka akhirnya menikah dari sinilah awal mula dari adanya nenek Moyang Suku Asmat yang kemudian, berpetualang hingga sampai di pedalaman seperti yang ditempati oleh mereka sekarang.

Adat Istiadat yang Masih Dilakukan Suku Asmat

Walaupun, zaman telah berkembang sangat pesat. Namun, seluruh penduduk masih tetap melestarikan adat dan istiadat yang sudah diajarkan turun-temurun. Mulai dari proses pernikahan dimana, diperbolehkan melangsungkannya saat usia 17 tahun.

Ritual juga akan dilanjutkan ketika mereka hamil, lahir, hingga kematian. Keunikan dari suku ini adalah, jasadnya tidak akan dikubur. melainkan dijadikan sebagai mumi. Setelah itu, ada prosesi potong jari dari serta diiringi oleh berbagai nyanyian dengan bahasa Suku Asmat.

Kesenian Tradisional Suku Asmat

Suku pedalaman Papua ini ternyata bukan hanya dikenal memiliki berbagai ukiran yang fantastis. Tetapi, pakaian adatnya juga menarik untuk diperhatikan. Dimana, seluruhnya menggunakan bahan dari alam.

Tidak cukup sampai disitu saja, kesenian Tradisional yang bisa dinikmati saat Anda berkunjung ke tempat ini adalah Tari Tobe. Dimana, mereka akan menyajikan tari dan membunyikan alat musik yang mirip seperti gendang

Alat tersebut disebut juga dengan Tifa yang akan dimainkan saat upacara adat. Dalam pelaksanaannya ada 16 penari laki-laki dan 2 orang perempuan. Mereka akan melakukan berbagai macam gerakan seperti melompat atau meloncat sesuai dengan iringan musik.

Beberapa orang menyebut tarian ini sebagai Tari Perang. Dimana fungsinya untuk mengorbarkan semangat mereka dalam medan perang. Selain kesenian tradisional Anda juga bisa melihat bagaimana mata pencahariannya.

Dimana, untuk warga pedalaman sendiri lebih sering berburu dan maramu. Dengan kata lain, apa yang mereka lakukan dulu masih terus dilestarikan. Selain itu, mereka juga menerapkan sistem ladang.

Sebagian hasilnya akan dibuat sendiri tetapi, sisanya dijual ke kerabat yang terkadang datang kesana. Selain itu, beberapa orang tua juga masih bekerja hanya saja mereka akan mencari ikan karena, lokasinya tidak jauh dari Danau dan Sungai.

Suku Asmat adalah satu diantara beberapa suku bangsa di Indonesia yang menarik untuk dikunjungi. Mereka sangat ramah dan bersahaja, jadi tidak ada salahnya untuk datang melihat bagaimana cara mereka bertahan hidup serta menjalankan adat istiadat agar tidak punah begitu saja.