in

Penjelasan Burung Jalak Lawu yang Mitosnya Membantu Pendaki

Bagikan Artikel Ini

Beberapa waktu lalu viral tentang Burung Jalak yang menyelamatkan para pendaki saat mereka tersesat. Hal seperti ini, memang bukan berita baru. Karena, pendakian Gunung Lawu memang terkenal dengan mitos mengenai Jalak Gading.

Menurut kepercayaan sekitar, Burung tersebut merupakan sosok dari patih Sunan Lawu. Di mana cerita rakyat tersebut berawal dari Prabu Brawijaya yang menyerahkan tugas kepada para abdi dalemnya yaitu Dipa dan Wangsa Manggala untuk selalu menjaga Gunung Lawu.

Keduanya mendapatkan tugas yang berbeda dari Sang Prabu. Dipa Manggala ditugaskan untuk menjaga dan menjadi penguasa Gunung Lawu. Dengan berbagai aturan serta batasan yang sudah dibuat.

Sementara, Wangsa Manggala sendiri mengubah wujud sebagai Burung Jalak Gading. Di mana tugas yang diberikan adalah membantu para pendaki mengarahkan ke jalan bila memang tersesat.

Cerita tersebut terus berkembang dan dipercaya sampai sekarang. Bahkan, keduanya juga masih bertugas hingga sekarang. Tidak heran bila keduanya menjadi sosok yang memang dikeramatkan oleh para pendaki.

Sayangnya, tidak sembarangan pendaki yang akan mendapatkan petunjuk dari Burung Jalak Gading ini. Hanya mereka yang punya niat tulus dan hati suci akan mendapatkan petunjuk biasanya mulai dari pos 2 sampai ke puncak Hargo Dumilah.

Fakta Menarik Mengenai Jalak Lawu

Tidak hanya mengenai mitos dan cerita rakyat saja ternyata, menurut pandangan para pakar. Habitat dari Jalak ini memang ada di Gunung Lawu dan hidup di ketinggian 3265 Mdpl. Menurut studi, keberadaannya semakin hari, semakin berkurang saja.

Burung yang mempunyai nama latin Turdus Poliocephalus Stresemani ini tidak jauh berbeda dengan jenis Anis. Di mana hidupnya memang berada di kawasan 1500 mdpl. Dari kenyataan tersebut tidak heran bila Gunung lawu menjadi habitat terbaiknya,

Menurut para pakar, mereka menjadi Lawu sebagai tempat hidupnya karena, disini masih ada Tanaman pakan yang sesuai dengan apa yang diinginkannya. Untuk tanaman pakan diantara adalah Manis Rejo, Rubus Alpestris, Putat, serta berbagai jenis rubus lainnya.

Inilah alasan mengapa Gunung Lawu sangat banyak habitatnya. Lalu, bagaimana pandangan para pakar dengan adanya Jalak Gading yang mampu menuntun para pendaki kembali ke jalur tersebut.

Ki Jalak Menurut Pandangan Ilmu Pengetahuan

Sebenarnya, mitos yang berkembang tersebut masih bisa dicerna oleh akal sehat karena, dapat dijelaskan menurut ilmu pengetahuan. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya mitos tersebut.

Pertama adalah kebiasaan yang hadir, di mana Anis ini sangat suka tempat terbuka. Sebagai pemakan biji, mereka harus mencari makanan tersebut di tanah. Sehingga, harus menyusuri seluruh area terbuka.

Dari kebiasaan inilah mengapa Burung tersebut bisa terlihat oleh pendaki. Di mana area mereka untuk mencari makan lokasinya tidak jauh dari jalur pendakian. Faktor selanjutnya adalah kebiasaan Burung Jalak yang suka akan remah-remah sisa makanan dari para pendaki yang memang sedang lewat atau istirahat.

Lambat laun, burung ini mengerti kebiasaan sehari-hari para pendaki. Jadi, mereka akan mendatangi tempat yang memang menyediakan banyak pasokan makanan inilah alasan secara ilmu pengetahuan mengapa Jalak Lawu selalu datang membantu para pendaki.

Sementara, faktor ketiga sendiri berasal dari mitos itu sendiri. di mana, dengan keberadaannya. Tidak ada manusia yang mengancam nyawa mereka. Sehingga, dengan kenyataan tersebut Burung ini merasa manusia adalah kawan.

Bukan menjadi sebuah ancaman serius. Jadi, mereka akan jinak dan bersedia menunjukkan arah yang  benar. Dari kejadian ini sebenarnya, semua orang mendapatkan pelajaran berharga. Di mana saat mereka mampu berdampingan dengan alam dan makhluk lain maka, sikap tolong menolong bisa dibudidayakan.

Tetapi, sebaliknya, bila manusia masih sering merusak alam an memburu burung hanya untuk memperkaya diri sendiri bisa saja mereka akan memberikan hukuman yang lebih menyakitkan. Jadi, tidak ada salahnya mengubah sikap dan pola pikir terhadap alam serta seluruh isinya.