in

Tradisi Mangain Asli Batak, Begini Fakta Uniknya

Bagikan Artikel Ini

Adat istiadat di Indonesia menjadi salah satu daya tarik yang tidak dapat tergantikan. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus wajib untuk melestarikannya. Walaupun, sangat melelahkan dan cenderung kurang praktis.

Ibarat kata bisa dilakukan satu kali tetapi, terbentur sebuah aturan turun-temurun menjadi harus tiga sampai 4 kali. Hanya saja, ini adalah bagian dari pelestarian budaya. Bagaimana saja keadaannya tidak boleh mengeluh atau harus ditinggalkan sama sekali.

Salah satu contohnya adalah Mangain. Merupakan Tradisi dari Suku Batak untuk prosesi pernikahan dan memberikan nama Marga kepada salah satu calon. Karena, menganut sistem perkawinannya hanya berdasarkan  keturunan sendiri, bukan dari suku lain.

Prosesi mangain sendiri bisa dikatakan sebagai salah satu langkah mengangkat anak. Dengan begini, mereka akan punya nama marga resmi. Hal ini menjadi satu kesatuan ritual pernikahan Suku Batak yang terus dilestarikan.

Mengapa Harus Diselenggarakan Upacara Mangain?

Sejak dulu warga Batak sangat percaya bahwa dengan melakukan pernikahan sesama suku keturunan mereka tidak akan melenceng jauh dari segi norma kesopanan, tata krama, hingga berbagai macam kebiasaan yang harus dilakukan.

Sayangnya, seiring perkembangan zaman. Banyak orang merantau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hingga, tradisi menikah sesama suku tidak dapa dilanjutkan. Demi mencegah tradisi ini tidak hilang.

Kenyataan tersebut sulit untuk dibendung dan cukup meresahkan. Akhirnya para tokoh adat serta beberapa cedikiawan memutuskan mengadakan Mangain sebagai salah satu solusi. Dengan begini permasalahan tentang pernikahan dengan suku selian Batak dapat terselesaikan,

Pemberian Mangain ini dibagi menjadi dua jika, untuk anak laki disebut dengan Mangain anak yang diambil dari salah satu saudara perempuan Ayah. Jika, calon tersebut adalah perempuan, maka namanya adalah Boru dan pengambilannya dari saudara laki-laki sang Ibu.

Agar tidak melanggar aturan karena larangan pernikahan antar marga maka, setiap pasangan wajib melakukan serangkaian acara ini. Ada satu hal lagi yang harus diperhatikan mengenai garis keturunan yang terjadi antar keduanya.

Suku Batak sendiri menganut sistem patrilineal atau sesuai dengan garis keturunan yang berasal dari anak laki-laki. Dengan kata lain, pemberian marga untuk pihak perempuan tidak akan berpengaruh besar terhadap keluarga.

Berbeda bila, calon pengantin tersebut adalah pihak lelaki. Karena, kondisinya dia adalah pihak luar. Posisinya tidak akan mampu menggantikan posisi menjadi kepala keluarga atau Raja.

Proses Adat Mangain

Salah satu proses Adat Mangain adalah melakukan pendidikan terhadap calon mempelai. Belajar mengenai seluk beluk dari awal sampai akhir. Dalam pengangkatan anak seperti ini memang tidak mudah.

Ada sebuah tanggung jawab besar yang harus diemban oleh kedua orang tuanya dan juga kedua pengantin. Karena, dalam prosesnya kewajiban tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda. Termasuk pula soal harta warisan

Hanya saja, proses adat mangain ini biasanya digunakan sebagai salah satu syarat wajib saja. Oleh karena itu, ada yang mengatakan bahwa, adat ini hanya untuk jual beli Marga yang harganya cukup fantastis.

Sayangnya, semua itu tidak benar karena, dalam proses pembelajaran ini memang butuh banyak biaya hingga nanti sudah resmi menggunakan nama Marga yang sudah disepakati bersama dan proses pernikahan tersebut bisa dilakukan.

Adat Mangain merupakan salah satu dari sekian banyak kebudayaan Indonesia yang terus dilestarikan sampai saat ini. Prosesnya memang panjang karena, memahami sebuah adat atau suku tidak bisa hanya satu atau dua hari saja.

Harapannya bukan hanya menyandang nama melainkan mampu melanjutkan dan meneruskan ajaran adat Batak. Pada dasarnya Hak anak di mangain dan kandung sama termasuk dalam hukum waris yang dianut oleh suku Batak