in

Sejarah Dari Tunjangan Hari Raya Sekaligus Cara Menghitungnya

Bagikan Artikel Ini

Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari. Di mana seluruh umat islam akan merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh berpuasa. Tidak hanya menang secara batin saja melainkan secara lahir juga mendapatkan kemenangan.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya Tunjangan Hari Raya yang diberikan kepada seluruh karyawan. Menurut pengertiannya, THR ini merupakan upah dan non upah yang wajib diberikan saat hari raya keagamaan.

Jadi, seharusnya Tunjangan ini dikeluarkan saat Hari besar agama masing-masing. Hanya saja, kenyataan di lapangan, semua diberikan tepat sebelum Idul Fitri. Karena, di Indonesia sendiri perayaannya diikuti oleh seluruh umat.

Dengan ritual tahunan mudik. Sama seperti mudik, Tunjangan Hari Raya ini juga punya sejarah panjang. Di mana awal mulanya terjadi pada tahun 1950. Di mana sistem permerintahan Indonesia masih parlementer.

THR merupakan sebuah program dari pemerintah sebagai salah satu upaya dalam mensejahterakan kehidupan rakyatnya. Hanya saja, waktu itu diberikan kepada Pamong Pradja saja atau saat ini adalah PNS.

Perkembangan Tunjangan Hari Raya

Waktu itu kabinet dari soekirman ini memberikan THR sebesar Rp100 atau setara dengan Rp1 juta untuk zaman sekarang. Tidak hanya itu saja sesuai dengan pengertiannya, kabinet ini juga memberikan berbagai macam bingkisan seperti sembako dan lain sebagainya.

Ternyata kebiasaan memberikan THR seperti, ini juga dilaksanakan oleh berapa perusahaan besar waktu itu. Hanya saja, berupa uang tunjungan yang diberikan di akhir bulan Ramadhan, atau dua hari sebelum Idul Fitri.

Ternyata kebiasaan tersebut mendapatkan protes keras dari kaum buruh. Mereka, merasa pemerintah tidak adil. karena, pemberian THR tersebut dinilai tidak tepat karena, PNS yang ada di kalangan Pamong Pradja adalah mereka golongan bangsawan dan orang-orang mampu.

Tahun 1952 para buruh ini melakukan mogok kerja. Mereka menuntut THR juga diberikan kepada mereka. Tuntutan itu dilakukan serius. Sayangnya, upaya untuk melakukan demonstrasi besar-besar gagal karena, pemerintah menurunkan seluruh tentara untuk menertibkan massa.

Dalam sejarah dari Tunjangan Hari Raya ini sebenarnya ada unsur politis. Di mana, pada masa kepemimpinan menteri Buruh oleh S.M Abidin. Sudah ada aturan mengenai pemberian tunjangan tersebut.

Hanya saja, para pengusaha menganggap hal itu tidak wajib dan sukarela. Hingga akhirnya, soekiman turun tangan . Sejak saat itu dia mendapatkan simpati besa dari seluruh lapisan masyarakat. Sejak saat itu, Tunjangan Hari Raya adalah program utama pemerintah sampai sekarang,

Cara menghitung dan Waktu Pemberian

Menurut aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah, THR sendiri memiliki rumus untuk pembayarannya yaitu upah satu kali gaji dan akan diberikan bila pekerja sudah bekerja selama 12 bulan atau satu tahun.

Tetapi, bila pekerja tersebut belum genap 12 bulan maka perhitungannya akan berbeda. 12 bulan akan dibagi berapa bulan dia sudah menjadi pegawai. Kemudian, dikalikan 1 kali upah gajinya.

Beberapa perusahaan selalu menggunakan cara ini. Tetapi, untuk yang masih status kontrak belum diberikan. Karena, mereka selalu menghitung THR setelah 3 bulan masa kontrak atau penyesuaiannyas selesai.

Lalu, kapan waktu yang tepat memberikannya . Biasanya diberikan pada saat satu minggu sebelum lebaran. Atau 10 hari sebelum tergantung kebijakan dari perusahaan tersebut. Tunjangan Hari Raya memang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.

Karena, secara tidak langsung para pekerja akan mendapatkan dua kali gaji selama satu bulan. Uang tersebut sejak dulu sampai sekarang selalu digunakan untuk membeli kebutuhan lebaran seperti baju, kue, dan tunjangan kepada keluarga serta keponakan.